Teknologi Tidak Netral: Siapa yang Diuntungkan?

Memahami Teknologi dalam Kehidupan Sehari-hari

Teknologi sering dipahami sebagai sesuatu yang netral. Banyak orang beranggapan bahwa teknologi hanyalah alat. Ia dianggap tidak memiliki kepentingan, tidak memihak, dan tidak membawa nilai tertentu. Teknologi dipandang seperti pisau yang bisa digunakan untuk memasak atau melukai, tergantung siapa yang memakainya. Pandangan ini terdengar masuk akal, karena dalam kehidupan sehari-hari kita memang menggunakan teknologi sebagai alat bantu untuk bekerja, belajar, berkomunikasi, dan beraktivitas.

Namun, jika kita melihat lebih dalam, teknologi tidak sesederhana itu. Setiap teknologi diciptakan oleh manusia, dirancang dengan tujuan tertentu, dan dikembangkan dalam sistem ekonomi serta sosial tertentu. Artinya, sejak awal teknologi sudah membawa kepentingan dan nilai. Ia tidak lahir di ruang kosong. Ia muncul dari kebutuhan, strategi bisnis, kebijakan pemerintah, dan kepentingan kelompok tertentu.

Ketika sebuah aplikasi media sosial dirancang, misalnya, ia tidak hanya dibuat agar orang bisa berkomunikasi. Ia juga dirancang untuk mengumpulkan data, menampilkan iklan, dan menciptakan ketergantungan agar pengguna terus aktif. Dalam konteks ini, teknologi tidak lagi netral. Ia menjadi bagian dari sistem yang menguntungkan pihak tertentu, terutama pemilik platform dan pengiklan.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami bahwa teknologi selalu terkait dengan kekuasaan, ekonomi, dan politik. Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi netral atau tidak, tetapi siapa yang diuntungkan dari keberadaan dan penggunaan teknologi tersebut.

Teknologi sebagai Produk Sosial

Teknologi tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari proses panjang yang melibatkan riset, investasi, dan kebijakan. Perusahaan besar, lembaga riset, dan pemerintah memiliki peran penting dalam menentukan teknologi apa yang dikembangkan dan teknologi mana yang tidak diprioritaskan. Keputusan ini tentu tidak lepas dari kepentingan ekonomi dan politik.

Misalnya, perusahaan teknologi akan lebih banyak mengembangkan produk yang menjanjikan keuntungan besar. Aplikasi yang bisa menjaring jutaan pengguna dan menghasilkan pendapatan iklan akan lebih diprioritaskan dibandingkan teknologi yang mungkin penting secara sosial tetapi tidak menguntungkan secara finansial. Akibatnya, inovasi sering kali bergerak mengikuti logika pasar.

Selain itu, teknologi juga dipengaruhi oleh budaya dan nilai masyarakat. Sistem pengenalan wajah, misalnya, dirancang berdasarkan data yang dikumpulkan dari kelompok tertentu. Jika data tersebut tidak beragam, maka hasilnya bisa bias. Teknologi yang tampak canggih bisa saja tidak akurat untuk kelompok tertentu, sehingga memperkuat ketidakadilan.

Dalam hal ini, teknologi bukan sekadar alat. Ia adalah produk sosial yang mencerminkan struktur masyarakat. Ia bisa memperkuat kesenjangan yang sudah ada jika tidak dirancang dengan mempertimbangkan keadilan dan keberagaman.

Siapa yang Mengendalikan Teknologi?

Pertanyaan penting dalam diskusi ini adalah siapa yang mengendalikan teknologi. Dalam era digital, sebagian besar platform besar dikuasai oleh perusahaan raksasa. Mereka memiliki sumber daya besar untuk mengembangkan sistem yang kompleks dan mengumpulkan data dalam jumlah besar.

Ketika segelintir perusahaan menguasai infrastruktur digital, mereka memiliki kekuatan yang sangat besar. Mereka bisa menentukan aturan main, mengatur algoritma, dan memengaruhi informasi apa yang muncul di layar pengguna. Algoritma yang tidak terlihat oleh publik dapat menentukan berita mana yang populer, konten mana yang viral, dan opini mana yang lebih sering muncul.

Kekuatan ini tidak hanya berdampak pada bisnis, tetapi juga pada demokrasi dan kehidupan sosial. Informasi yang disaring oleh algoritma dapat membentuk cara pandang masyarakat. Jika sistem lebih mengutamakan konten yang memicu emosi atau kontroversi karena lebih menguntungkan secara bisnis, maka ruang publik bisa dipenuhi oleh polarisasi.

Di sisi lain, pengguna sering kali tidak memiliki kendali penuh atas data mereka. Data pribadi menjadi komoditas yang diperjualbelikan. Dalam kondisi seperti ini, jelas bahwa teknologi lebih menguntungkan pihak yang menguasai infrastruktur dan data dibandingkan pengguna biasa.

Ekonomi Digital dan Ketimpangan

Perkembangan teknologi digital membawa pertumbuhan ekonomi baru. Banyak lapangan kerja baru muncul, dan banyak bisnis kecil terbantu oleh platform daring. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, ada juga ketimpangan yang semakin jelas.

Platform digital sering mengambil peran sebagai perantara. Mereka menghubungkan penjual dan pembeli, pengemudi dan penumpang, atau kreator dan penonton. Tetapi dalam sistem ini, platform biasanya mengambil bagian keuntungan yang signifikan. Sementara itu, pekerja di lapangan sering tidak memiliki perlindungan kerja yang memadai.

Model kerja berbasis aplikasi membuat banyak orang bekerja tanpa status tetap. Mereka disebut mitra atau freelancer, bukan karyawan. Akibatnya, mereka tidak mendapatkan jaminan sosial yang sama seperti pekerja formal. Teknologi yang awalnya dianggap membuka peluang, dalam praktiknya juga menciptakan kerentanan baru.

Selain itu, keuntungan terbesar sering kali terkonsentrasi pada perusahaan teknologi besar dan investor mereka. Sementara pengguna menghasilkan data dan konten, nilai ekonomi yang tercipta lebih banyak mengalir ke pemilik platform. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa teknologi tidak netral, melainkan mengikuti struktur kekuasaan ekonomi yang ada.

Data sebagai Sumber Kekuasaan

Di era digital, data menjadi sumber daya yang sangat berharga. Setiap klik, pencarian, dan interaksi meninggalkan jejak. Jejak ini dikumpulkan, dianalisis, dan digunakan untuk berbagai tujuan, mulai dari pemasaran hingga pengembangan produk.

Perusahaan yang memiliki akses ke data dalam jumlah besar memiliki keunggulan besar. Mereka bisa memahami perilaku pengguna, memprediksi tren, dan mengarahkan keputusan konsumen. Data memberikan kekuasaan untuk memengaruhi pilihan dan bahkan opini.

Namun, pengguna sering tidak menyadari sejauh mana data mereka digunakan. Syarat dan ketentuan yang panjang jarang dibaca dengan cermat. Dalam praktiknya, banyak orang menyerahkan data tanpa benar-benar memahami konsekuensinya.

Ketika data menjadi sumber kekuasaan, maka pihak yang menguasainya memiliki posisi dominan. Negara juga mulai melihat data sebagai aset strategis. Persaingan global dalam penguasaan teknologi dan data semakin intens. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi dan data tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari perebutan kekuasaan di tingkat nasional dan global.

Algoritma dan Pengaruhnya

Algoritma adalah jantung dari banyak teknologi digital. Ia menentukan apa yang kita lihat di media sosial, produk apa yang direkomendasikan, dan video apa yang muncul berikutnya. Algoritma bekerja berdasarkan pola dan data, tetapi ia juga dirancang dengan tujuan tertentu.

Tujuan tersebut sering kali berkaitan dengan peningkatan waktu penggunaan atau keuntungan iklan. Artinya, algoritma cenderung menampilkan konten yang membuat pengguna bertahan lebih lama. Konten yang memicu emosi kuat sering kali lebih diprioritaskan karena lebih menarik perhatian.

Dalam situasi ini, teknologi tidak netral. Ia secara aktif membentuk pengalaman dan persepsi pengguna. Orang mungkin merasa bahwa mereka memilih sendiri apa yang mereka konsumsi, padahal pilihan tersebut sudah dipengaruhi oleh sistem yang dirancang sebelumnya.

Jika algoritma tidak diawasi dengan baik, ia bisa memperkuat bias dan diskriminasi. Sistem yang dilatih dengan data yang tidak seimbang bisa menghasilkan keputusan yang tidak adil, misalnya dalam rekrutmen atau pemberian kredit. Dengan demikian, teknologi bisa memperkuat ketidaksetaraan yang sudah ada.

Akses dan Kesenjangan Digital

Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap teknologi. Di banyak daerah, akses internet masih terbatas. Perangkat digital juga tidak selalu terjangkau bagi semua kalangan. Kesenjangan ini menciptakan perbedaan peluang yang signifikan.

Mereka yang memiliki akses cepat dan stabil bisa memanfaatkan peluang pendidikan daring, pekerjaan jarak jauh, dan bisnis digital. Sementara itu, mereka yang tertinggal menghadapi hambatan yang semakin besar. Teknologi yang dianggap membawa kemajuan justru bisa memperlebar jarak antara kelompok masyarakat.

Kesenjangan digital bukan hanya soal akses fisik, tetapi juga kemampuan menggunakan teknologi. Literasi digital menjadi faktor penting. Tanpa kemampuan memahami cara kerja teknologi dan risiko yang menyertainya, pengguna bisa menjadi korban penipuan atau manipulasi.

Dalam konteks ini, teknologi jelas tidak netral. Ia bisa menjadi alat pemberdayaan, tetapi juga bisa menjadi sumber ketimpangan jika akses dan kemampuan tidak merata.

Contoh Kasus Ilustrasi

Bayangkan sebuah kota kecil yang mulai menerapkan sistem layanan publik berbasis aplikasi. Pemerintah daerah ingin terlihat modern dan efisien. Semua pengaduan masyarakat harus dilakukan melalui aplikasi daring. Secara teori, sistem ini mempermudah proses dan mengurangi birokrasi.

Namun, tidak semua warga memiliki ponsel pintar atau akses internet yang stabil. Warga lanjut usia dan masyarakat berpenghasilan rendah kesulitan menggunakan aplikasi tersebut. Akibatnya, suara mereka justru semakin sulit terdengar. Sementara itu, warga yang melek teknologi lebih mudah menyampaikan aspirasi dan mendapatkan layanan lebih cepat.

Dalam situasi ini, teknologi yang dirancang untuk meningkatkan pelayanan ternyata tidak netral. Ia lebih menguntungkan kelompok tertentu yang sudah memiliki akses dan kemampuan. Tanpa kebijakan pendampingan dan alternatif layanan, teknologi justru menciptakan ketidakadilan baru.

Ilustrasi ini menunjukkan bahwa niat baik tidak cukup. Desain dan implementasi teknologi harus mempertimbangkan kondisi sosial yang beragam agar tidak memperkuat kesenjangan.

Peran Pemerintah dan Regulasi

Karena teknologi memiliki dampak luas, peran pemerintah menjadi sangat penting. Regulasi diperlukan untuk memastikan bahwa teknologi tidak hanya menguntungkan perusahaan besar, tetapi juga melindungi kepentingan publik.

Pemerintah dapat menetapkan aturan tentang perlindungan data pribadi, transparansi algoritma, dan persaingan usaha yang sehat. Tanpa regulasi yang jelas, perusahaan teknologi bisa beroperasi tanpa batas yang memadai, sehingga risiko penyalahgunaan meningkat.

Namun, regulasi juga harus bijak. Terlalu ketat bisa menghambat inovasi, sementara terlalu longgar bisa merugikan masyarakat. Oleh karena itu, dialog antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat sipil sangat penting.

Dalam banyak kasus, kebijakan publik sering tertinggal dibandingkan perkembangan teknologi yang sangat cepat. Hal ini menjadi tantangan besar. Jika regulasi tidak adaptif, maka ketimpangan dan penyalahgunaan bisa semakin sulit dikendalikan.

Membangun Teknologi yang Lebih Adil

Menyadari bahwa teknologi tidak netral bukan berarti kita harus menolak teknologi. Sebaliknya, kesadaran ini menjadi langkah awal untuk membangun sistem yang lebih adil. Pengembang teknologi perlu mempertimbangkan dampak sosial dari produk mereka.

Partisipasi masyarakat dalam proses perancangan teknologi juga penting. Suara kelompok rentan harus didengar agar kebutuhan mereka tidak diabaikan. Pendidikan dan literasi digital perlu diperkuat agar masyarakat lebih kritis dalam menggunakan teknologi.

Selain itu, transparansi menjadi kunci. Pengguna berhak mengetahui bagaimana data mereka digunakan dan bagaimana algoritma memengaruhi pengalaman mereka. Dengan informasi yang jelas, masyarakat bisa membuat keputusan yang lebih sadar.

Teknologi seharusnya dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan hanya keuntungan segelintir pihak. Untuk mencapai hal ini, dibutuhkan komitmen kolektif dari berbagai pihak.

Penutup

Teknologi memang membawa banyak kemudahan dan peluang. Ia membantu kita bekerja lebih cepat, berkomunikasi tanpa batas, dan mengakses informasi dengan mudah. Namun, di balik semua manfaat tersebut, teknologi tidak pernah benar-benar netral.

Ia lahir dari kepentingan tertentu, dikendalikan oleh pihak tertentu, dan memberikan keuntungan lebih besar kepada kelompok tertentu. Jika kita tidak menyadari hal ini, kita bisa terjebak dalam sistem yang memperkuat ketimpangan dan ketidakadilan.

Dengan memahami bahwa teknologi selalu terkait dengan kekuasaan dan ekonomi, kita bisa lebih kritis dalam menggunakannya. Kita bisa mendorong regulasi yang adil, mendukung inovasi yang inklusif, dan memperkuat literasi digital.

Pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan dari teknologi harus terus diajukan. Dengan cara itu, kita tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi juga warga yang sadar dan berperan dalam membentuk arah perkembangan teknologi di masa depan.